Tips Aman Lari Saat Puasa Selama Bulan Ramadan
Di tengah bulan Ramadan, ketika tubuh menahan lapar dan haus pertanyaan tentang lari kadang terasa seperti menantang kerasnya kehidupan. Bayangkan status sebagai pelari kalcer yang sudah kamu bangun cukup lama harus bertarung dengan hal paling dasar, keyakinan.
Selama ini kamu bukan hanya mengejar angka Strava, tetapi juga mengejar ritme napas dan ritme kebugaran. Lalu sekarang, sampai 30 hari ke depan kamu juga harus memikirkan ritme iman.
Bagi sebagian orang, puasa dijadikan alasan untuk berhenti olahraga. Alasannya tak lain dan tak bukan tidak bisa minum dan makan. Ya, asupan yang masuk dalam tubuh sangat vital perannya untuk menjaga daya tahan tubuh tetap prima.
Apalagi olahraga paling sederhana dan bisa dilakukan semua orang, semua kalangan, semua usia, seperti lari, lazimnya dilakukan pagi hari, sebelum matahari terbit sampai ia menampakkan sinarnya paling terik dan sore hari.
Tapi percayalah para pelari kalcer, puasa bukan halangan, bukan alasan untuk tidak lagi kalcer. Puasa justru hadir dengan pertimbangan lain, dengan perhitungan baru. Kalo istilah fans Liverpool nya, You’ll Never Walk Alone. Ya, puasa dan lari bisa berjalan beriringan.
Riset Membuktikan Olahraga Tetap Bisa Dilakukan Saat Puasa
Banyak riset yang sudah membuktikan lari atau olahraga lainnya tetap bisa optimal sekali pun tak ada asupan. Yang penting kita dibekali pengetahuan dan kehati-hatian agar kaki terus melangkah tanpa mengkhianati iman.
Riset dari National Library of Medicine misalnya, menyebutkan mayoritas parameter performa fisik seperti performa aerobik, kekuatan, tinggi lompatan, indeks kelelahan, dan total kerja tidak dipengaruhi oleh puasa ketika diuji di pagi maupun siang hari. Memang, dampak negatifnya tetap ada, tapi minim.
Hal tersebut tentu saja harus didukung oleh kita sendiri sebagai manusia. Maksudnya, bagaimana pola tidur, pola makan, dan nutrisi yang harus dioptimalkan untuk meminimalkan kemungkinan kelelahan.
Pentingnya Pola Tidur Saat Puasa
Sekali pun terdengar sepele, pola tidur punya pengaruh signifikan terhadap tubuh. Kurangnya waktu menyebabkan tubuh cepat lelah. Pastikan waktu tidurmu minimal 6-8 jam perhari. Camkan ini, jangan bergadang!!!
Jika memungkinkan, manfaatkan waktu siang untuk power nap (tidur selama 15-30 menit) agar tubuhmu bisa me-recharge energi. Jangan bablas sampai 30 menit jelang waktu berbuka ya!
Pola Makan untuk Menjaga Energi Pelari Saat Ramadan
Pola makan juga sama pentingnya. Percuma tidurmu ideal jika makanmu sembarangan. Tapi harusnya ini sudah jadi rahasia umum di kalangan pelari kalcer.
Makanlah makanan yang tinggi protein seperti telur, ayam, ikan, tahu, dan tempe. Sebab protein berdampak signifikan untuk menjaga massa otot. Sedangkan untuk menjaga energi bisa bertahan lebih lama disarankan mengonsumsi nasi merah, oatmeal, ubi, atau sejenisnya.
Sayur dan buah tentu tidak boleh ketinggalan. Keduanya penting sebagai asupan vitamin dan mineral. Terakhir, yang paling sederhana, perbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi. Asupan-asupan makanan ini harus kamu konsumsi saat berbuka puasa maupun sahur.
Waktu Terbaik untuk Lari Saat Puasa
Selain tidur dan makan, yang perlu diperhatikan adalah timing. Ada tiga waktu ideal untukmu berlari, yaitu setelah sahur, sebelum berbuka, dan setelah buka puasa. Tujuannya tentu saja untuk menghindari kelelahan dan dehidrasi.
Lari setelah sahur baik untuk tubuh karena tubuh masih terasa segar. Waktu ini memang ideal dan jadi andalan mereka yang ingin berlari. Tapi selama puasa kamu tidak perlu nunggu matahari tinggi untuk menyudahi, tak usah pula memaksakan sampai 10K.
Statusmu sebagai pelari kalcer juga tetap terjaga jelang buka puasa. Anggaplah ngabuburitmu sudah naik kelas. Bukan lagi nongkrong enggak jelas, motoran, macet-macetan, tapi lari. Lakukan itu 30 atau satu jam sebelum kultum di TV dimulai.
Percaya atau tidak, ini merupakan waktu yang paling ideal. Sebab tubuh segera mendapatkan asupan cairan dan energy setelah olahraga.
Jika waktu jelang berbuka dirasa terlalu singkat, kamu bisa lari lagi setelah buka puasa. Yang perlu diingat, beri jeda waktu, alias jangan sesaat setelah menenggak minum dan makanan langsung ngacir. Tahan sekitar 1-2 jam agar pencernaan tidak terganggu.
Lari Saat Puasa Bukan Tentang Kecepatan
Alih-alih mengejar kecepatan atau jarak yang biasanya kamu raih di bulan lain, puasa adalah saatnya berlari dengan hati. Artinya durasi pendek, intensitas ringan, dan konsistensi yang terjaga.
Riset lain dari Unesa menunjukkan bahwa kombinasi puasa dengan olahraga rutin dapat memperbaiki komposisi tubuh sekaligus menjaga kebugaran tanpa kehilangan tenaga secara drastis.
Ingat, lari saat puasa bukan sekadar latihan otot, tetapi latihan kesabaran. Karena sang pelari tak berhenti karena hari tanpa makan atau minum, tetapi karena ia tahu cara bersahabat dengan tubuhnya sendiri.
e-lifetyle adalah platform yang di manage oleh essentials the agency. SEO & Website development agency. Pastikan brand Anda muncul dalam pencaharian di AI platform.
essentials the agency. AI-driven Search Solution Agency.
