Film Korea The Assassin(s) Kontroversial, Yoo Hae-jin Sampai Dijaga Polisi, Kenapa?
Film Korea The Assassin(s) lagi jadi perbincangan panas di Korea Selatan. Bukan cuma karena ceritanya mengangkat salah satu peristiwa politik paling sensitif dalam sejarah negara tersebut, tetapi juga karena kontroversinya merembet ke kehidupan nyata para pemain. Aktor Yoo Hae-jin bahkan mendapat perlindungan polisi setelah muncul ancaman dan aksi protes di depan rumahnya. Sementara itu, ribuan orang ikut melaporkan tim produksi dan para pemeran film ini. Sebenarnya, apa yang bikin The Assassin(s) begitu kontroversial? (Yonhap News, Seoul Economic Daily)
Apa Itu Film The Assassin(s)?

The Assassin(s) adalah film thriller sejarah Korea Selatan garapan sutradara Hur Jin-ho. Film ini dibintangi Yoo Hae-jin, Lee Min-ho, Park Hae-il, dan Park Jung-min.
Ceritanya berangkat dari peristiwa penembakan pada 15 Agustus 1974, ketika Presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung-hee, menjadi target percobaan pembunuhan. Park selamat, tetapi istrinya, Yuk Young-soo, terkena tembakan dan meninggal dunia pada hari yang sama.
Dalam catatan resmi sejarah, pelaku penembakan adalah Mun Se-gwang, yang kemudian dinyatakan bersalah dan dieksekusi pada Desember 1974. Namun, The Assassin(s) membawa cerita ini ke wilayah yang lebih rumit dengan mempertanyakan apakah pelaku benar-benar bertindak sendirian.
Lewat karakter-karakter yang menyelidiki peristiwa tersebut, film ini mengangkat pertanyaan tentang peluru yang hilang dan kemungkinan adanya pihak lain di balik penembakan. Di sinilah masalahnya dimulai. (The Independent)
Kenapa The Assassin(s) Dianggap Mendistorsi Sejarah?
Kontroversi utama film ini terletak pada cara ceritanya menafsirkan kembali peristiwa sejarah yang sensitif secara politik.
Sejumlah kelompok konservatif dan pihak yang mendukung warisan politik Park Chung-hee menilai film tersebut menyiratkan kemungkinan bahwa pihak pemerintah atau badan intelijen Korea Selatan pada masa itu terlibat dalam penembakan. Bahkan, mereka menganggap narasinya membuka ruang dugaan bahwa kematian Yuk Young-soo bukan semata-mata akibat aksi Mun Se-gwang.
Masalahnya, dugaan tersebut bertentangan dengan kesimpulan penyelidikan resmi dan catatan pengadilan yang selama ini menjadi rujukan.
Yayasan yang menjaga warisan Park Chung-hee turut mengecam film tersebut dan meminta permintaan maaf serta penghentian penayangannya. Sejumlah tokoh politik konservatif juga menuduh film ini menyebarkan narasi yang menyesatkan.
Namun, perlu dicatat bahwa film ini tidak secara eksplisit menetapkan Park Chung-hee sebagai dalang penembakan. Yang dipersoalkan para pengkritiknya adalah kemungkinan konspirasi yang dibangun melalui alur dan dialog film.
Pihak produksi membantah tuduhan bahwa film tersebut dibuat untuk menyangkal atau mendistorsi sejarah. Menurut tim produksi, film ini memadukan peristiwa dan tokoh nyata dengan karakter serta situasi fiksi. Mereka juga menegaskan bahwa film tersebut bukan karya yang dibuat untuk kepentingan politik tertentu. (Yonhap News, The Independent)
Yoo Hae-jin Sampai Mendapat Perlindungan Polisi

Dampak kontroversi ini tidak berhenti pada kritik terhadap film. Para pemainnya ikut menjadi sasaran protes, termasuk Yoo Hae-jin, aktor yang memerankan seorang detektif dalam film tersebut.
Pada awal Oktober 2026, kelompok demonstran menggelar aksi di sekitar kediaman Yoo di Seoul. Mereka menuntut agar film ditarik dari bioskop dan para pemain serta tim produksi meminta maaf.
Situasi semakin serius setelah muncul pernyataan bernada ancaman di internet. Pada 6 Oktober, polisi Seoul mengonfirmasi bahwa Yoo mendapat langkah perlindungan setelah permintaan dari agensinya.
Langkah tersebut mencakup pemberian smartwatch untuk keadaan darurat, pendaftaran Yoo dalam sistem tanggap darurat 112, serta peningkatan patroli di sekitar tempat tinggalnya pada waktu-waktu tertentu.
Meski demikian, perlindungan ini bukan berarti Yoo ditempatkan bersama petugas polisi pribadi sepanjang hari. Polisi menerapkan langkah pencegahan berdasarkan kekhawatiran terhadap keselamatannya.
Kepala Kepolisian Metropolitan Seoul juga menyatakan bahwa pihaknya akan menindak ancaman terhadap sang aktor sesuai hukum. Menteri Kebudayaan Korea Selatan sebelumnya turut meminta agar keselamatan orang-orang yang terlibat dalam film diperhatikan. (SBS News, Yonhap News)
Lebih dari 10 Ribu Orang Ikut Melaporkan Tim Film
Tekanan terhadap The Assassin(s) juga memasuki ranah hukum.
Menurut laporan Seoul Economic Daily pada 7 Oktober, sebanyak 10.280 warga Korea Selatan mengajukan pengaduan bersama terhadap tujuh orang yang terlibat dalam film tersebut. Nama-nama yang disebut mencakup sutradara Hur Jin-ho, produser Kim Won-kook, dua penulis skenario, serta aktor Yoo Hae-jin, Lee Min-ho, dan Park Hae-il.
Para pelapor menilai penggambaran film tersebut berpotensi mencemarkan nama baik melalui narasi yang mereka anggap bertentangan dengan catatan sejarah resmi.
Perlu digarisbawahi, pengaduan ini bukan berarti seluruh pihak yang dilaporkan telah terbukti melakukan pelanggaran. Proses hukum harus menentukan apakah tuduhan tersebut memiliki dasar yang cukup.
Kontroversi ini juga memengaruhi aktivitas promosi. Tim film memutuskan tidak menghadiri sejumlah acara terkait Busan International Film Festival (BIFF) yang dijadwalkan pada awal Oktober, dengan alasan mempertimbangkan keselamatan penonton dan peserta.
Acara Actor’s House bersama Lee Min-ho yang semula direncanakan juga dibatalkan. (Seoul Economic Daily, Yonhap News)
Pemerintah Korea Selatan Ikut Angkat Bicara

Kasus ini kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas: sejauh mana pembuat film boleh mengembangkan cerita fiksi berdasarkan peristiwa sejarah nyata?
Menteri Kebudayaan Korea Selatan, Chae Hwi-young, membela kebebasan berkreasi. Dalam pernyataannya pada 7 Oktober, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak seharusnya mencampuri isi karya seni, selama kebebasan berekspresi tetap dijamin.
Ia juga membedakan kritik terhadap sebuah film dengan ancaman terhadap orang-orang yang membuatnya. Menurutnya, publik bebas memperdebatkan isi karya, tetapi intimidasi personal tidak bisa dibenarkan.
Sikap ini memperlihatkan dua persoalan yang kini saling bertabrakan. Di satu sisi, film sejarah memang bisa dikritik jika dianggap menyimpang dari fakta. Di sisi lain, tekanan politik dan ancaman terhadap pemain tidak otomatis menjadi cara yang sah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat.
Perdebatan tersebut pun bukan hanya soal apakah sebuah film akurat, tetapi juga apakah kreator boleh mengajukan pertanyaan yang menantang versi sejarah yang sudah mapan. (Yonhap News)
Jadi, Apakah The Assassin(s) Benar-Benar Memalsukan Sejarah?
Sampai 9 Oktober 2026, kontroversi ini belum menghasilkan kesimpulan hukum yang membuktikan bahwa tim film melakukan pelanggaran. Tuduhan distorsi sejarah masih menjadi pokok perdebatan, sementara pengaduan terhadap tim produksi harus melalui proses yang berlaku.
Yang jelas, film ini menyentuh peristiwa bersejarah yang masih punya bobot politik dan emosional di Korea Selatan. Karena itu, pilihan naratif yang mungkin terlihat seperti elemen thriller bagi sebagian penonton bisa dianggap sebagai tuduhan serius oleh pihak lain.
Kasus Yoo Hae-jin juga menjadi pengingat bahwa kritik terhadap karya dan ancaman terhadap pembuatnya adalah dua hal berbeda. Penonton boleh tidak setuju, mempertanyakan fakta, atau bahkan menolak sebuah film. Namun, keselamatan orang yang terlibat tetap harus dilindungi.
Pada akhirnya, kontroversi The Assassin(s) bukan cuma tentang sebuah film yang dianggap kontroversial. Ini juga menjadi ujian bagi hubungan antara sejarah, kebebasan berekspresi, politik, dan tanggung jawab pembuat karya.
